Catatan hati seorang ahli gizi, muslimah, wanita biasa yang punya banyak cita-cita dan berusaha untuk mewujudkannya
Jumat, 15 Februari 2013
NIKMATNYA AIR TAWAR
Allaah Ta’ala berfirman :
وَأَسْقَيْنَاكُمْ مَاءً فُرَاتًا
“...dan kami beri minum kamu dengan air tawar “ ( Qs : Al-Mursalat : 27)
Yaitu air yang enak untuk dikonsumsi dan tidak asin , Allaah Ta’ala berfirman :
“Maka terangkanlah kepadaku tentang air yang kamu minum, Kamukah yang menurunkannya dari awan ataukah Kami yang menurunkan?, Kalau Kami kehendaki niscaya Kami jadikan dia asin, maka mengapakah kamu tidak bersyukur? ( Qs Al-Waqi’ah : 68-70)
Allaah menyebutkan nikmatNya kepada mereka berupa air minum segar yang mereka minum, dan bahwa sekiranya Allaah tidak memudahkannya, niscaya tidak ada jalan bagi kalian untuk mendapatkannya, dan bahwa Dia-lah yang menurunkannya “dari awan” yakni awan dan hujan yang telah diturunkan oleh Allaah sehingga terciptalah sungai-sungai yang mengalir diatas bumi dan didalamnya, dan terciptalah mata air-mata air yang memancar deras. Dan diantara nikmatNya adalah bahwwa Dia menjadikan air itu tawar lagi segar yang disukai oleh jiwa, dan jika Dia menghendaki, Dia dapat menjadikannya “asin” lagi pahit sehingga tidak dapat dimanfaatkan , “ maka mengapakah kamu tidal bersyukur?” atas nikmat-nikmat Allaah . (Tafsir As-Sa’dy hal 145)
SUARA HATI
Bismillahirrahmanirrahim...
sore yang indah di Sukabumi...
menatap pohon-pohon yang daunnya berguguran dan menguning...
diselingi suara anak-anak kecil yang sedang bermain...
polos wajahnya, manis senyumnya...
menghadirkan rindu dan kehangatan akan ingatan tentang rangkaian asa dimasa depan..:)
menjadi sosok seorang ibu yang penuh kasih sayang tentunya adalah sebuah harapan besar yang apabila dijalani dengan sepenuh hati akan melahirkan kemuliaan...
diri..
ingatlah, suatu kelembutan sungguhnya tidak akan datang dengan mudah apabila tidak dibiasakan, kecuali untuk orang-orang yang telah Allah beri rahmat dengan Akhlaq yang mulia..
diri..
ingatlah, bahwa menyayangi itu membutuhkan pengorbanan dan ketulusan...
bagaimana ketika engkau mampu memahami, bersabar, dan berusaha untuk mencarikan udzur serta berprasangka baik..
SALAFY CERMINAN AKHLAQ MULIA
Kalau Bisa Berbicara dengan Bahasa yang Baik, kenapa Tidak?
Saudaraku, sungguh hati ini sangat miris dan sedih melihat bagaimana cara sebagian saudara-saudara kita dalam menasihati, mengomentari atau mengingatkan saudara-saudara kita yang melakukan kesalahan/kebid'ahan/kemaksiatan/kekeliruan.
saya tidak merasa paling baik, karena sayapun pernah dan mungkin masih melakukan hal itu, namun kiranya sebagai seorang muslim tiada hari kecuali harus selalu ada perbaikan, evaluasi diri serta perbaikan akhlaq dan ilmu...
ingatlah Hadist ini..
Rosululloh shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda,
“بُعِثْتُ لِأُتَمِّمَ صَالِحَ الْأَخْلاَقِ”
“Aku diutus untuk menyempurnakan akhlak yang mulia.” [H.R. Al-Hakim dan dinilai sahih oleh beliau, adz-Dzahabi dan al-Albani].
Syaikhul Islam Ibnu Taimiyyah rahimahullah memasukkan penerapan akhlak yang mulia dalam permasalahan aqidah. Beliau berkata,
FILOSOFI TALI
Dulu pernah baca tentang filosofi ini, tapi saya lupa sumber
validnya darimana -_- tapi ingin sedikit share denga kawan-kawan,
teringat filosofi ini saat tadi sedang mengupas bawang yang sungguh
kejam karena membuat saya menangis tersedu-sedu...
Filosofi tali dapat kita analogikan dengan hubungan persahabatan, pertemanan, atau hubungan antar manusia.
Apabila ada seutas tali yang dipegang dari dua sisi, ketika satu sisi menarik dengan kuat maka sisi lainnya harus berusaha mengulurnya, begitupula sebaliknya ketika satu sisi lain mengulur dengan kuat maka sisi lainnya harus berusaha menarikanya , karena apabila yang terjadi adalah tarik-tarikan maka tali berpotensi untuk putus, begitupula apabila tali terlalu diulur berpotensi utuk menjadi terlalu longgar dan tali tidak berfungsi sebagaimana mestinya.
contoh real dari Filosofi ini adalah kisah Shahabat Nabi yaitu Abu Bakr dan Umar Ibn Khattab Radiallaahhu'anhuma..., kedua sahahbat ini memiliki karakter yang berlawanan namun keduanya saling menguatkan dalam berbagai kondisi , contoh :
1. Ketika terjadi perselisihan tentang bagaimana menyikapi tawanan perang badar, Umar ketika itu mengusulkan agar para tawanana dibunuh karena ingin menunjukkan bahwa tidak ada sikap lunak kaum muslimin untuk orang-orang musyrik, sedangkan Abu bakr ketika itu mengusulkan agar mereka para tawanan tak usah dibunuh namun cukup dengan meminta tebusan, Abu bakr mengingatkan tentang tali kekerabatan dan nasab dengan mereka. dalam hal ini keduanya memiliki sikap yang berbeda, pendapat yang dipilih adalah pendapat Abu bakr meskipun akhirnya pendapat Umar dibenarkan oleh wahyu (Untuk kisah ini lihat Arrahiq Almakhtum syaikh Almubarakfury hal 337)
Filosofi tali dapat kita analogikan dengan hubungan persahabatan, pertemanan, atau hubungan antar manusia.
Apabila ada seutas tali yang dipegang dari dua sisi, ketika satu sisi menarik dengan kuat maka sisi lainnya harus berusaha mengulurnya, begitupula sebaliknya ketika satu sisi lain mengulur dengan kuat maka sisi lainnya harus berusaha menarikanya , karena apabila yang terjadi adalah tarik-tarikan maka tali berpotensi untuk putus, begitupula apabila tali terlalu diulur berpotensi utuk menjadi terlalu longgar dan tali tidak berfungsi sebagaimana mestinya.
contoh real dari Filosofi ini adalah kisah Shahabat Nabi yaitu Abu Bakr dan Umar Ibn Khattab Radiallaahhu'anhuma..., kedua sahahbat ini memiliki karakter yang berlawanan namun keduanya saling menguatkan dalam berbagai kondisi , contoh :
1. Ketika terjadi perselisihan tentang bagaimana menyikapi tawanan perang badar, Umar ketika itu mengusulkan agar para tawanana dibunuh karena ingin menunjukkan bahwa tidak ada sikap lunak kaum muslimin untuk orang-orang musyrik, sedangkan Abu bakr ketika itu mengusulkan agar mereka para tawanan tak usah dibunuh namun cukup dengan meminta tebusan, Abu bakr mengingatkan tentang tali kekerabatan dan nasab dengan mereka. dalam hal ini keduanya memiliki sikap yang berbeda, pendapat yang dipilih adalah pendapat Abu bakr meskipun akhirnya pendapat Umar dibenarkan oleh wahyu (Untuk kisah ini lihat Arrahiq Almakhtum syaikh Almubarakfury hal 337)
Langganan:
Postingan (Atom)



